Archive for September, 2007

RENUNGAN MALAM

Oleh Eko Hardjanto

Betapa risaunya hati terbuai dunia, sering kali ia membuat lupa. Kesibukan
tiada henti, tak berkurang setiap hari. Betapa lelah diri ini…

Malam itu setelah semua cinta tertidur, kucoba merenung tentang sebuah
kehidupan yang telah dan sedang aku jalani. Tanpa rencana aku dengarkan sebuah
lagu yang cukup membuatku tersentuh. Lagu itu tenang dihiasi tampilan gambar
kematian. Dalam keheningan malam aku terdiam merenungkan salah satu baitnya.

Each soul has its given date who knows tomorrow could be your day Come on
my brothers let’s pray Decide now, do not delay

Kematian, mungkin besok datang menjemput, siapa yang tahu. Cukuplah itu
menjadi pengingat walau sejenak. Zikrul maut memang cara mujarab untuk sejenak
melupakan hiruk pikuk kesibukan dunia. Walau bukan satu-satunya cara, namun
melihat jasad tak berdaya terbalut kafan sering kali membuat hati ini
tertunduk.

Sekian kali aku melihat kematian, sekian kali melewati pekuburan. Di liang
lahat sang jasad sepi sendiri, gelap dalam perut bumi. Cukuplah itu menjadi
pengingat, membatasi canda kesenangan dunia.

Hidup ini akan terus berlangsung hingga waktu yang ditetapkan. Di antaranya
silih berganti kebaikan dan keburukan. Meluangkan waktu untuk merenung serta
mengingat kematian selalu memberikan semangat baru untuk menjaga kebaikan tetap
di atas keburukan. Upaya menghisab diri merenungi amal dan dosa senantiasa
menumbuhkan energi untuk menjaga diri agar jauh dari keterpurukan.

Sungguh keheningan selalu menjadi saat yang tepat untuk merenung, karena ia
adalah lawan dari hiruk pikuk yang melupakan dan melalaikan. Rasulullah
mengajarkan manusia untuk merenung dalam keheningan ziarah kubur. Sebagaimana
Kalam Allah dalam Al-Muzammil menegaskan heningnya malam sebagai saat untuk
sujud mengadu dan menghisab diri.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan
bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai
urusan yang panjang (banyak).

Syukur kepada-Mu ya Rabbi atas kesempatan merenung malam ini. Detik-detik
perenungan sungguh bagaikan setetes embun yang kembali menyegarkan jiwa. Ia
bagaikan penahan laju kesibukan dunia untuk sejenak menghela nafas menatap arah,
untuk sejenak membuang lupa.
***

Ya muqollibal qulub…tsabbit quluubana ála dienika wat tho’atika

Rotterdam, 10 Jumaadits Tsani 1428 H

rizki

DIkutip dari artikel di www.eramuslim.com

“Laa raaziqan illa Allah, Tiada pemberi rezeki selain Allah”.

Setiap orang memiliki kebutuhan. Di antara kebutuhan manusia terbesar adalah
memperoleh penghasilan atau rezeki. Ada dua untuk memperolehnya, cara yang
halal, yaitu dengan bertindak jujur dan berlaku taat kepada Allah atau dengan
cara sebaliknya. Dua pilihan tersebut telah jelas dampak-akibatnya, namun banyak
orang yang tidak menyadari atau berlaku masa bodoh.

Ada baiknya untuk meneliti kembali apa-apa yang kita peroleh hari ini. Apakah
sudah melewati proses yang benar? Tentu sangat tidak diinginkan bahwa sebelanga
rezeki yang kita peroleh hari ini adalah hasil dari setitik nila di permulaan
prosesnya. Setitik nila itu bisa jadi berupa unsur suap, kolusi atau nepotisme.
Terlebih bagi yang merasa tidak tenang atas limpahan rezeki yang diterimanya.
Hal ini merupakan peringatan adanya “something wrong”, karena memang
sifat rezeki seperti itu adalah “panas” seperti bara api.

Sungguh bijak ulama yang mengatakan bahwa siapa yang melihat dengan mata
hatinya, kelak dia akan beroleh hasil yang sangat baik dari perbuatannya dan
akan selamat dari akibat buruknya.
Semoga kita dikarunia mata hati yang
jernih itu. Amin.

Oleh Muhammad Rizqon