Komitmen seorang muslim…
Seberapa dalam komitmenku untuk menepati ikrarku sebagai seorang muslim.. hari ini, amalan apa yang telah kulakukan? Tadi pagi aku bangun 04:45, sholat subuh, tidur lagi. Bangun lagi jam 07:30, sarapan, kalau terlalu siang takut kehabisan, maklum gratisan, hehe… Balik, trus tiduran sambil liat TV. Tiba-tiba ada telp dari ibu, jam 8:30 (sstt… ternyata ketiduran, payah!!), ngobrol lamaaaaaaaaa banget, jam 10 ada mulan 2 di rcti (sudah tentu nonton, my fav movies). selesai mulan, mandi dong… eeeh, mo sholat dhuha kok udah kesiangan, sekalian nunggu dhuhur. Abis dhuhur baca2 buku, jam stengah 3 nyari maem bareng temen. belanja cemilan, siapa tau tergerak buat lembur ntar malem, kerjaan numpuk, males banget menjamahnya, hiks…hiks… pulang jam 4, ashar, nonton tv sambil nyemil (hahaha, katanya mo buat lembur). maghrib, tilawah, telpon sambil nunggu isya’.
wuah, ternyata dikit banget amalan hari ini, astaghfirullah… apa bukti komitmenku sebagai seorang muslim? berapa besar hati ini tergerak untuk berjihad di jalan-Nya?
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhary disebutkan bahwa setiap malam ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bangun untuk sholat malam beliau menyampaikan sebuah doa kepada Allah ta’aala yang intinya memohon ampunan Allah ta’aala atas segenap dosa di masa lalu dan yang akan datang. Namun sangat menarik untuk dicatat bahwa doa tersebut diawali dengan rangkaian ungkapan pujian yang mengandung pembaruan komitmen Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Allah ta’aala dan kepada kehidupan akhirat.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam untuk sholat tahajjud beliau mengajukan doa berikut: “Ya Allah, bagimu segala puji, Engkau Penegak langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, milikMu Kerajaan langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi. BagiMu segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar, para NabiMu benar, dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam benar, Kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri dan beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan tampak. Engkaulah Yang terdahulu dan Yang terakhir dan tidak ada ilah selain Engkau.” (HR Bukhary 1053)
Bila seorang muslim sudah yakin akan kehidupan akhirat, niscaya ia akan menjadi sangat berbeda dengan orang yang pengetahuannya hanya sebatas ruang lingkup dunia fana. Dan Allah ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam serta ummatnya untuk meninggalkan golongan manusia seperti itu.
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ
”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)
Sungguh sangat berbeda sikap dan prilaku seorang ahli dunia dengan ahli akhirat. Seorang ahli dunia sangat berambisi mengejar keberhasilan jangka pendek sehingga justru Allah ta’aala cerai-beraikan urusannya di dunia dan akhirat dan Allah ta’aala jadikan ia selalu dihantui oleh bayang-bayang kefakiran di dalam kehidupan dunia. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ
فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
“Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tidak memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)
Sebaliknya seorang beriman yang keinginan dan fokusnya sangat kuat akan kebahagiaan akhirat malah Allah ta’aala janjikan untuk menata kehidupan dunianya dengan baik, lalu hatinya senantiasa tenteram di dunia maupun di akhirat kemudian dunia justru bakal mendekati dirinya dengan cara yang samasekali tidak terfikirkan olehnya sama sekali. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Allah ta’aala kumpulkan baginya urusannya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)
Astaghfirullah… Astaghfirullah… Ampunilah hari-hariku yang penuh kesia-siaan. berkahilah hari-hariku yang akan datang, semoga semakin banyak manfaat yang bisa kuberikan untuk orang-orang di sekitarku, amin…