Archive for November, 2008

nina bobo…

Ngantuk berat…
Semalem enggak begadang, kok jam segini udah ngantuk ya… Aku punya sedikit masalah yang cukup kompleks mengenai pola tidur. Kompleks bila dikaitkan dengan profesiku.
Pembiasaan tidur yang kelewat sore (kata temen-temen sih), bener-bener bikin aku jadi susah lembur. Sekitar jam sembilanan malem udah siap-siap tidur, sikat gigi, bersihin muka, mengatur posisi. Sebenernya bisa juga dipaksain bangun, mpe jam 1 pagi juga tahan, tapi… Akibatnya lumayan serem. Jangankan tahajjud, subuh kadang jadi kesiangan. Udah gitu di kantor bawaaannya lemes dan ga konsen. jadi wajar dong kalau kupilih tidur cepet, biar ga ketinggalan subuh, dan seger di kantornya, syukur-syukur bangun tahajjud. Kerja di pagi hari juga lebih menyenangkan, apalagi kalo ditemenin musik keras2, jedug2… Pembenaran, hehe…
Yang kedua, manajemen stress ku yang canggih banget. Secara otomatis, bila aku kelewat tegang, pusing, mumet, menghadapi hal-hal di luar perkiraan dan membuatku cukup shock, mata ini bawaannya merem, susah banget dibikin melek. Emang sih, kalau abis tidur, badan jadi lebih seger, pikiran juga lebih cling… Tapi… Kadang orang-orang di sekitarku yang komplain, kerjaan sebanyak ini kok malah tidur, hahaha… Tenang om, tenang tante… Hati riang, kerjaan beres. Pokoknya jangan pernah kerja sambil stres, sambil cemberut, dan melakukan dengan terpaksa. Karena, kerjaan jadi terasa lebih berat, lebih lama, dan sudah tentu, sulit ikhlasnya.
Lakukan semampumu, jangan bebani dirimu terlalu banyak (keliatan banget kan tipe orang seperti apa diriku ini, golongan darahnya juga udah ketahuan, hehehe…). Kalau memang tidak mampu, dan sudah berusaha seoptimal mungkin, ga ada salahnya kok bilang maaf karena belum bisa menyelesaikan pekerjaan.

That’s all what i’m thinking about. Pokoknya, jangan pernah mengeluh atas jalan yang kita pilih. Kalau mau mengeluh, pilih jalan lain atuh neng, ga ada yang maksa kok…

Final Destination….

Kembali berkutat di antara tumpukan dokumen, tiba-tiba terasa ada yang hilang… Apa sebenarnya yang kucari? Apa yang ingin kucapai? Apa impian terbesarku?
Mempunyai banyak uang? Benarkah… Terkadang aku malah menjadi susah bersyukur ketika Dia memberiku rejeki berlebih. Terkadang juga aku menjadi malas berinfaq, karena kupikir semua rejeki ini tak akan pernah cukup untuk menutupi kebutuhanku yang semakin hari semakin berlimpah.
Mempunyai karier bagus, sebagai pembuktian bahwa aku memang cukup bernilai, dikenal banyak orang, dibutuhkan oleh mereka. Tanpa aku, maka semuanya menjadi berantakan. Tanpa diriku, maka akan terasa pincang kaki ini bila berjalan… Tanpa aku… Astaghfirullah.. Pasti Allah tak akan ridho, betapa besar ‘aku’, dan betapa kecil Dia. Naifnya aku, mengira semua terjadi karena kemampuanku, bukan ridho-Nya.
Ya… Ada impian kecil, tapi terasa sangat membahagiakan. Hati ini tersenyum setiap kali mengingatnya. Jantung ini berdetak lebih kencang, dan jiwa ini tak henti berharap, suatu saat nanti… Suatu saat nanti aku ingin bisa mencapainya…
Aku ingin, sangat ingin, suatu saat nanti, aku mempunyai sekolah untuk anak-anak tak mampu. Sekolah gratis, TK atau mungkin SD. Tidak harus besar, kecil pun cukup. Aku berdiri di salah satu ruangnya, menatap satu demi satu murid-muridku, berdoa bersama memulai hari, semoga Allah memberkahi hari-hari kami. Siang hari, seusai sekolah, aku pulang ke rumah. Berjalan dengan langkah yang ringan, bersenandung kecil, sambil memikirkan masakan apa yang akan kupersembahkan untuk suamiku tersayang. Makanan yang paling disukainya, sudah tentu. Katanya, semua masakanku adalah makanan favoritnya, karena dimasak dengan cinta, sayang, dan penuh rasa bahagia. Gombal sih… Tapi aku selalu tersipu tiap kali mengingatnya. Malam ini dia pulang cepat, aku ingin membuat kejutan untuknya. Akan kubuat kudapan paling spesial hari ini untuk menemani kami berdua menonton acara tv kesukaan kami. Ada si kecil di sudut ruangan, sibuk mewarnai bukunya dengan mulut penuh makanan. Tiba-tiba dia berlari ke arahku ketika menyadari aku sudah pulang siang itu, sambil berceloteh tak jelas, mengadukan kakaknya yang tak henti menggodanya. Aku tersenyum menatapnya, memeluknya erat-erat, seakan sudah sekian tahun yang lalu aku terakhir kali melihatnya. Hemmm… Indah ya…
Sungguh ringan langkah kita, ketika kita tidak membebani diri ini dengan materi ataupun pencapaian duniawi. Ketika kita sadar bahwa hati lah sumber kebahagiaan kita, bukan uang, atau yang lain.. Entah kenapa sedikit orang yang menyadarinya, malah terkadang mengorbankan keluarganya dengan dalih ‘kepentingan keluarga’. Bukankah kita punya Allah, yang Maha Kaya, yang pasti akan mencukupi semua kebutuhan kita, bila kita memintanya dengan sungguh-sungguh. Kenapa harus merasa mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk hari esok, toh semua bisa hilang dalam sekejap bila Dia berkehendak. Beramal tidak harus dengan materi, ilmu, doa, senyum, semua adalah bagian dari amalan yang semestinya tak henti kita lakukan. Ambillah seperlumu, dan bagikan sisanya, semoga dengan begitu sisa usia ini menjadi lebih bermakna. Andai bisa menjadi kenyataan… Menjadi sebaik-baik manusia tanpa harus terjebak dalam doktrin duniawi. Freedom to be me!!!

-untuk para workaholic-

Simple Life….

Lelaki itu berusia sekitar 30an tahun. Dengan raut muka yang teduh dan nampak sangat bersahaja dalam penampilannya. Tetapi, semua itu berubah ketika mulai berbicara mengenai pendidikan dan kualitas remaja masa kini. Matanya menjadi berbinar, wajahnya bersemangat, dan mulutnya tak pernah berhenti mengungkapkan impian dan harapannya. Betapa besar keinginannya tuk mendongkrak IPM Indramayu yang sudah tertinggal jauh dari daerah-daerah lain di sekitarnya. Begitu juga komitmen peningkatan iman dan takwa yang seharusnya juga tak luput untuk tetap diperhatikan. Subhanallah… Tampaknya tak ada yang lebih indah selain impian dan cita-citanya itu.
Dia pun bercerita mengenai perjalanan hidupnya. PNS biasa, dengan pengalaman kerja yang tak jauh dari sekolah. Menjadi guru, bertugas di dinas pendidikan, dan kini diberi amanah untuk merencanakan pendidikan di kabupaten indramayu. Ada yang berbeda dari dirinya… Aku masih bertanya-tanya. Melihat komitmen dan kesungguhannya, kusadar betul dia bukan PNS ‘biasa’ yang sering kutemui. Dia juga bukan tipe manusia Indonesia pada umumnya, yang merasa cepat puas dengan apa yang diraih. Dia pastilah sadar betul tahapan pencapaian yang jelas atas hidupnya.
Akhirnya kutahu, salah satu pembuktian bahwa dia memang bukan orang biasa. Berasal dari PNS biasa, bekerja sebagai PNS biasa dengan gaji yang hanya cukup menutupi kebutuhan sehari-hari… Ternyata dia adalah master universitas di Australia. Sungguh tak biasa. Ah… Kubayangkan andai semua pendidik sepertimu, memiliki kualitas intelektual yang baik, komitmen terhadap syariat Islam, dan tidak silau dengan gemerlap dunia… Pasti… Indonesia pasti bersinar tidak lama lagi… Semoga masih banyak orang seperti dia di Indonesia ini, amin…

Semoga cukup hari ini….

Hari ini… Ada penyesalan yang teramat dalam. Allah mengirimkan utusan-Nya, dan begitu mudah kumenolaknya.
Bukan kebetulan yang teramat biasa, tapi semua adalah rangkaian rencana-Nya yang harusnya kumampu maknai dengan lebih bijak.
Sore ini, kantor sudah sepi, karena 6 hari kerja jadi siang sudah pulang. aku turun dari ruangan, bermaksud hendak berwudhu di kamar mandi bawah. Sepertinya lebih praktis, dan lebih nyaman. Ternyata, memang bukan hari yang biasa. Ada hal yang tidak mengenakkan di kamar mandi tersebut sehingga terpaksa aku naik lagi ke atas, menggunakan fasilitas kamar mandi yang di atas. Tak sengaja, ketika aku menaiki tangga, kulihat 2 karung di bawah tangga berisi penuh kertas bekas dan botol plastik. Tampaknya ibu sang pemungut sampah sudah mulai beraksi. aku sering bertemu dengannya, kadang saat aku pulang, kadang ketika hari sudah agak larutpun dia masih ada di kantor. Seperti biasa, aku hanya tersenyum saat berpapasan dengannya.
Tapi.. Ada yang tak biasa hari ini. Sudah kubilang, ini memang hari yang sangat tidak biasa. Kulihat dia memungut roti yang bersisa setengah, dan berkata kepadaku (dengan logat Indramayunya), “Alhamdulillah… Ibu lapar, dari tadi ingin makan, akhirnya dapat makanan juga. Kemarin sepeda yang biasa Ibu pakai ban nya meletus, jadi terpaksa tidak bisa kemana-mana. Hari ini sepedanya sudah benar, dan Ibu lapar, tapi dari tadi tidak ada makanan.” Kira-kira seperti itulah yang dia ucapkan, karena aku belum familiar dengan logat indramayu, walaupun sama-sama berbahasa Jawa. Aku hanya tersenyum sambil meneruskan langkah, tidak terpikir untuk sekedar menanggapi, meringankan bebannya, atau bahkan memberikan sedikit makanan yang ada di ruangan. Sepanjang wudhu, aku terus berfikir, apa yang sepatutnya kulakukan. Terus berfikir dan berfikir. Tapi hanya sampai berfikir… Belum bertindak… Tidak berbuat… Sampai akhirnya, kutersadar, Astaghfirullah… Kenapa Ibu tadi merasa harus berbicara denganku? Bukankah Allah yang menggerakkan mulutnya untuk menceritakan berat beban dan deritanya padaku. Kenapa kamar mandi bawah yang biasanya baik-baik saja, tapi saat itu mendadak ada hal yang tidak mengenakkan sehingga aku harus kembali ke atas? Bukankah itu semua tangan Tuhan untuk mempertemukan aku dengan Ibu tadi dan mendengarkan semua keluhnya. Rabb…. Menyesal sekali rasa hati ini. Dengan tergesa, kubenahi lagi jilbabku, dan segera beranjak keluar kamar mandi. Ibu tadi sudah pergi. Setengah berlari, kuturuni tangga, tapi… Memang penyesalan selalu datang terlambat. Dari kejauhan kulihat Ibu tadi pelan mengayuh sepeda.
Ibu, maafkan aku… Mungkin seharusnya lewat diri inilah rejeki Allah datang untuk Ibu, tapi kenapa aku begitu sulit untuk mengeluarkannya.
Allah.. Penyesalan hari ini semoga tak terulang lagi. Semoga tak ada lagi penyesalan-penyesalan yang sama lainnya. Semoga cukup Ibu itu yang terakhir kali kukecewakan. Semoga Engkau tak jera mengirim utusan-Mu lagi untuk mengingatkanku akan pentingnya berbagi dan berempati…
Semoga… Semoga cukup hari ini….

enough…

YANG TERLEWATKAN
Sheila on Seven

Kemana kau selama ini
Hingga kalian kunanti
Kenapa baru sekarang
Kita dipertemukan

Sesal tak kan ada arti
Karna semua telah terjadi
Ini setelah menjalani
Sisa hidup dengannya

Reff:
Mungkin salahku… melewatkanmu…
Tak mencarimu… sepenuh hati…
Maafkan aku…

Kesalahanku… melewatkanmu…
Hingga kau kini… dengan yang lain…
Maafkan aku…

Jika berulang kembali
Kau tak akan terlewati
Segenap hati kucari
Dimana kau berada

Walau ku terlambat
Kau tetap yang terhebat
Melihatmu… mendengarmu…
Kaulah yang terhebat

*****
Sudah…
Memang sudah seharusnya ku tak mencarimu lagi…
Pasti ini yang terbaik.
Maaf bila keputusanku menyakitimu.
Allah Maha Adil, ada yang lebih tepat untukmu…
Bukan aku…
Bukan…

jangan mudah marah

eh… eh… kok gitu sih…
loh kok marah…
jangan gitu sayang…
jangan gitu sayang…

sering banget denger lagu itu, maklum, temen sekamarku make buat ringtonenya. sedikit bermuhasabah, seberapa mudah diri ini mengexpresikan amarah? berapa kali sehari aku merasa perlu memberitahu orang lain bahwa aku tidak menyukai sikap maupun perilakunya? benarkah aku memang harus mengungkapkan itu semua? atau kah itu hanya pemuas emosi yang sebenarnya tidak perlu untuk kulakukan, karena hanya akan menggores luka di hati orang lain…

Rasulullah saw sangat tidak menyukai marah. bahkan beliau selalu tersenyum ketika menghadapi kemarahan orang lain. Subhanallah… Jangankan menghadapi kemarahan orang lain, ketika aku merasa ada orang lain yang tidak menyukaiku, terkadang aku membandingkan ‘nilainya’ dan ‘nilaiku’. apa alasannya untuk tidak menyukaiku? benarkah dia jauh lebih baik dariku? apa benar aku seburuk itu? maka mulailah resistensi diri ini dan berpikir yang tidak-tidak tentang orang tersebut. Astaghfirullah… Bukannya introspeksi dan memperbaiki diri, aku malah menganggapnya iri dan tidak lebih baik dariku, parah ya…

Ya… Mungkin mengungkapkan emosi akan meringankan beban dan emosi diri kita, tapi energi negatif yang kita munculkan pada orang lain, akan berdampak negatif juga pada orang lain. jadi lebih mudah bila kita berhati besar untuk menerimanya, dan jauh lebih mulia bila kia mampu merubah energi negatif tadi menjadi energi positif, membuat orang-orang di sekitar kita lebih bahagia, lebih optimis menghadapi hari… Semoga… Selalu… Amin…

muslim sejati?

Komitmen seorang muslim…

Seberapa dalam komitmenku untuk menepati ikrarku sebagai seorang muslim.. hari ini, amalan apa yang telah kulakukan? Tadi pagi aku bangun 04:45, sholat subuh, tidur lagi. Bangun lagi jam 07:30, sarapan, kalau terlalu siang takut kehabisan, maklum gratisan, hehe… Balik, trus tiduran sambil liat TV. Tiba-tiba ada telp dari ibu, jam 8:30 (sstt… ternyata ketiduran, payah!!), ngobrol lamaaaaaaaaa banget,  jam 10 ada mulan 2 di rcti (sudah tentu nonton, my fav movies). selesai mulan, mandi dong… eeeh, mo sholat dhuha kok udah kesiangan, sekalian nunggu dhuhur. Abis dhuhur baca2 buku, jam stengah 3 nyari maem bareng temen.  belanja cemilan, siapa tau tergerak buat lembur ntar malem, kerjaan numpuk, males banget menjamahnya, hiks…hiks… pulang jam 4, ashar, nonton tv sambil nyemil (hahaha, katanya mo buat lembur). maghrib, tilawah, telpon sambil nunggu isya’.

wuah, ternyata dikit banget amalan hari ini, astaghfirullah… apa bukti komitmenku sebagai seorang muslim? berapa besar hati ini tergerak untuk berjihad di jalan-Nya?

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhary disebutkan bahwa setiap malam ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bangun untuk sholat malam beliau menyampaikan sebuah doa kepada Allah ta’aala yang intinya memohon ampunan Allah ta’aala atas segenap dosa di masa lalu dan yang akan datang. Namun sangat menarik untuk dicatat bahwa doa tersebut diawali dengan rangkaian ungkapan pujian yang mengandung pembaruan komitmen Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Allah ta’aala dan kepada kehidupan akhirat.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam untuk sholat tahajjud beliau mengajukan doa berikut: “Ya Allah, bagimu segala puji, Engkau Penegak langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, milikMu Kerajaan langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi. BagiMu segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar, para NabiMu benar, dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam benar, Kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri dan beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan tampak. Engkaulah Yang terdahulu dan Yang terakhir dan tidak ada ilah selain Engkau.” (HR Bukhary 1053)

Bila seorang muslim sudah yakin akan kehidupan akhirat, niscaya ia akan menjadi sangat berbeda dengan orang yang pengetahuannya hanya sebatas ruang lingkup dunia fana. Dan Allah ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam serta ummatnya untuk meninggalkan golongan manusia seperti itu.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)

Sungguh sangat berbeda sikap dan prilaku seorang ahli dunia dengan ahli akhirat. Seorang ahli dunia sangat berambisi mengejar keberhasilan jangka pendek sehingga justru Allah ta’aala cerai-beraikan urusannya di dunia dan akhirat dan Allah ta’aala jadikan ia selalu dihantui oleh bayang-bayang kefakiran di dalam kehidupan dunia. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ
فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tidak memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Sebaliknya seorang beriman yang keinginan dan fokusnya sangat kuat akan kebahagiaan akhirat malah Allah ta’aala janjikan untuk menata kehidupan dunianya dengan baik, lalu hatinya senantiasa tenteram di dunia maupun di akhirat kemudian dunia justru bakal mendekati dirinya dengan cara yang samasekali tidak terfikirkan olehnya sama sekali. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Allah ta’aala kumpulkan baginya urusannya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Astaghfirullah… Astaghfirullah… Ampunilah hari-hariku yang penuh kesia-siaan. berkahilah hari-hariku yang akan datang, semoga semakin banyak manfaat yang bisa kuberikan untuk orang-orang di sekitarku, amin…

Indramayu…

Hari ini hari jum’at, sudah 3 hari aku tinggal di kabupaten yang dulu belum pernah kulirik lokasinya di peta manapun. Yang terbayang hanya mangganya yang merah dan manis, nyaaaaammm… Alhamdulillah… Rasanya nyaman sekali tinggal disini, suasana pedesaannya masih kental (yup, nampaknya memang aku ga bakat tinggal di kota), halaman yang luas di setiap rumahnya, dan yang pasti ada pohon mangga. Senangnya… Nyamannya… Kalau sudah seperti ini, entah apalagi yang harus mereka cari.. Uang jelas bukan jaminan kebahagiaan, justru mungkin akan membuat mereka bertubi-tubi tertimpa masalah. Apalagi kalau bukan dari sumber yang jelas kehalalannya.

Tapi, ada yang berbeda… Kalau di kotaku (duh, chauvinisme niy) orang berebut meminta maaf, di sini… kenapa ya orang-orang pengendara sepeda motor yang kutemui jarang yang bersikap ramah dan bersikap hati-hati. memang sih, jalannya kecil, tidak sebesar di kota-kota lain, tapi kalau naiknya ngebut dan tanpa helm, resiko yang mereka dapat pastilah sama. Anyway, itu tidak mengurangi kenyamananku tinggal di kota ini. Kota kecil, dengan pusat kota yang lebih kecil, banyak penjual mangga di sepanjang jalan. Mereka sangat bangga dengan mangga mereka, Subhanallah… harga diri yang mungkin susah kita dapatkan di kota lain.. Mangga, hanya satu jenis buah, ternyata mampu mendongkrak harga diri kota ini dibanding kota lainnya. Semoga kebanggaan mereka mampu mendongkrak harga diri bangsa ini, yang jelas sudah porak poranda, yang lebih mengagumi produk luar negeri dan merasa berkelas dengan makan resep buatan luar negeri. Semoga….