Final Destination….
Kembali berkutat di antara tumpukan dokumen, tiba-tiba terasa ada yang hilang… Apa sebenarnya yang kucari? Apa yang ingin kucapai? Apa impian terbesarku?
Mempunyai banyak uang? Benarkah… Terkadang aku malah menjadi susah bersyukur ketika Dia memberiku rejeki berlebih. Terkadang juga aku menjadi malas berinfaq, karena kupikir semua rejeki ini tak akan pernah cukup untuk menutupi kebutuhanku yang semakin hari semakin berlimpah.
Mempunyai karier bagus, sebagai pembuktian bahwa aku memang cukup bernilai, dikenal banyak orang, dibutuhkan oleh mereka. Tanpa aku, maka semuanya menjadi berantakan. Tanpa diriku, maka akan terasa pincang kaki ini bila berjalan… Tanpa aku… Astaghfirullah.. Pasti Allah tak akan ridho, betapa besar ‘aku’, dan betapa kecil Dia. Naifnya aku, mengira semua terjadi karena kemampuanku, bukan ridho-Nya.
Ya… Ada impian kecil, tapi terasa sangat membahagiakan. Hati ini tersenyum setiap kali mengingatnya. Jantung ini berdetak lebih kencang, dan jiwa ini tak henti berharap, suatu saat nanti… Suatu saat nanti aku ingin bisa mencapainya…
Aku ingin, sangat ingin, suatu saat nanti, aku mempunyai sekolah untuk anak-anak tak mampu. Sekolah gratis, TK atau mungkin SD. Tidak harus besar, kecil pun cukup. Aku berdiri di salah satu ruangnya, menatap satu demi satu murid-muridku, berdoa bersama memulai hari, semoga Allah memberkahi hari-hari kami. Siang hari, seusai sekolah, aku pulang ke rumah. Berjalan dengan langkah yang ringan, bersenandung kecil, sambil memikirkan masakan apa yang akan kupersembahkan untuk suamiku tersayang. Makanan yang paling disukainya, sudah tentu. Katanya, semua masakanku adalah makanan favoritnya, karena dimasak dengan cinta, sayang, dan penuh rasa bahagia. Gombal sih… Tapi aku selalu tersipu tiap kali mengingatnya. Malam ini dia pulang cepat, aku ingin membuat kejutan untuknya. Akan kubuat kudapan paling spesial hari ini untuk menemani kami berdua menonton acara tv kesukaan kami. Ada si kecil di sudut ruangan, sibuk mewarnai bukunya dengan mulut penuh makanan. Tiba-tiba dia berlari ke arahku ketika menyadari aku sudah pulang siang itu, sambil berceloteh tak jelas, mengadukan kakaknya yang tak henti menggodanya. Aku tersenyum menatapnya, memeluknya erat-erat, seakan sudah sekian tahun yang lalu aku terakhir kali melihatnya. Hemmm… Indah ya…
Sungguh ringan langkah kita, ketika kita tidak membebani diri ini dengan materi ataupun pencapaian duniawi. Ketika kita sadar bahwa hati lah sumber kebahagiaan kita, bukan uang, atau yang lain.. Entah kenapa sedikit orang yang menyadarinya, malah terkadang mengorbankan keluarganya dengan dalih ‘kepentingan keluarga’. Bukankah kita punya Allah, yang Maha Kaya, yang pasti akan mencukupi semua kebutuhan kita, bila kita memintanya dengan sungguh-sungguh. Kenapa harus merasa mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk hari esok, toh semua bisa hilang dalam sekejap bila Dia berkehendak. Beramal tidak harus dengan materi, ilmu, doa, senyum, semua adalah bagian dari amalan yang semestinya tak henti kita lakukan. Ambillah seperlumu, dan bagikan sisanya, semoga dengan begitu sisa usia ini menjadi lebih bermakna. Andai bisa menjadi kenyataan… Menjadi sebaik-baik manusia tanpa harus terjebak dalam doktrin duniawi. Freedom to be me!!!
-untuk para workaholic-